“Toro… kamu sudah mendengar berita terbaru tentang Fizkar?” Tanya Aris berbisik. Aku menautkan alisku. Aku selalu bersama Fizkar dan sampai saat ini keadaanku baik-baik saja. Bahkan, kurasakan jauh lebih baik daripada kehidupanku sebelumnya yang sunyi. Ada apa lagi dengan Fizkar?!
This summary is not available. Please
click here to view the post.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
“Ro! Boleh gue cerita banyak tentang diri gue ke elo?” Tiba-tiba Fizkar berbicara berbisik. Aku mengangguk dengan beribu tanya. Fizkar merebahkan kepalanya di pangkuanku. Diraihnya tanganku dan dibimbingnya supaya membelai kepalanya.
Ada yang lebih mengejutkan lagi. Ada anak baru di kelasku. Fizkar Zakaria namanya. Tubuhnya kecil tetapi tegap. Rambut agak cepak. Kurasa kalau gondrong ia akan menjadi kribo. Wajah tampannya terlihat lelaki sekali. Menurutku kesan badungnya sangat menonjol. Tentu saja gumpalan di celananya yang agak ketat juga tidak kalah menonjol. Ouch…
“Tapi kamu janji tidak melakukannya pada Aris, ya? Nanti kalau kita bertemu lagi Paman serahkan lagi kontol Paman buat kamu!” Pintanya. Mana mungkin aku berjanji? Aku sudah pernah mengocok kontol Aris sekali. Di samping Paman Arjo persis!
“Paman tidak marah kamu begitukan… tapi jangan ke Aris ya, nanti dia tidak betah. Dia anaknya keras. Kalau tidak menyukai sesuatu ia bisa berbuat nekat!”
This summary is not available. Please
click here to view the post.












