“Eits,jangan negative thinking dulu boy, kalo gue maho mending gue embat elu duluan dah!” Jawab gue sambil nutupin hal, yang memang bener bahwa gue adalah maho.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
This summary is not available. Please
click here to view the post.
“Toro… kamu sudah mendengar berita terbaru tentang Fizkar?” Tanya Aris berbisik. Aku menautkan alisku. Aku selalu bersama Fizkar dan sampai saat ini keadaanku baik-baik saja. Bahkan, kurasakan jauh lebih baik daripada kehidupanku sebelumnya yang sunyi. Ada apa lagi dengan Fizkar?!
“Ro! Boleh gue cerita banyak tentang diri gue ke elo?” Tiba-tiba Fizkar berbicara berbisik. Aku mengangguk dengan beribu tanya. Fizkar merebahkan kepalanya di pangkuanku. Diraihnya tanganku dan dibimbingnya supaya membelai kepalanya.
Ada yang lebih mengejutkan lagi. Ada anak baru di kelasku. Fizkar Zakaria namanya. Tubuhnya kecil tetapi tegap. Rambut agak cepak. Kurasa kalau gondrong ia akan menjadi kribo. Wajah tampannya terlihat lelaki sekali. Menurutku kesan badungnya sangat menonjol. Tentu saja gumpalan di celananya yang agak ketat juga tidak kalah menonjol. Ouch…
“Gue cuma mau kasih peringatan buat elo! Jangan sok kegantengan di sini. Elo anak baru! Selly dan cewek-cewek cakep di sini jatah anak-anak lama. Kalau elo berani mendekati satu aja di antara mereka, siap-siap saja elo seperti bencong ini! Hehh!”
This summary is not available. Please
click here to view the post.
“Paman tidak marah kamu begitukan… tapi jangan ke Aris ya, nanti dia tidak betah. Dia anaknya keras. Kalau tidak menyukai sesuatu ia bisa berbuat nekat!”
Aku tidak bisa tidur. Otak homoku mulai bekerja. Ada dua lelaki berbaring di sebelahku, tetapi aku diamkan saja? Bodoh!
Kutarik koper-koper itu. Ehh, anjrit…!!! Berat banget?!! Ini kan kopernya Denis kemarin? Kok… masih ada isinya…?! Kok ada di sini?!!
“Denis… sini Denis…” kupanggil monyet itu. Hihihi… Nggak tahu gimana caranya manggil monyet, yang terpikir malah si Denis. Mungkin karena sama-sama tengil!
Aku nggak punya alasan buat menolaknya. Sebenarnya aku juga nggak punya alasan buat mengikutinya, tapi… aku nggak sanggup lagi menghadapi masalah ini seorang diri…








